Foto saya
Pasuruan, west java, Indonesia
nothing special about me but im unique . . . . just it ., . . .

Pages

Jumat, 15 April 2011

SENTUH

TANGANKU TERKATUP PADA BIBIRKU
MEMBIARKAN BIBIRMU TAK MEYENTUHNYA
AKU TAK BUTUH KAU SENTUH BIBIRKU
SENTUHLAH HATIKU
AKU BUTUH ITU
SENTUHLA. . .ATAU PERGILAH
JIKA KAU TAK INGIN MNYENTUHNYA
YA SUDAH AKU PERGI
DAN KAU PERGILAH

SEMPAT

Malam ini begitu indah, bulan sempurna dengan sinarnya. Bintang berpencar seolah semesta ini miliknya. Malam yang sempurna.
Tapi lihatlah ke bawah. Sesosok gadis kecil, rambutnya tergerai indah menjuntai ke bawah. Di bawah pohon di sebuah taman ia duduk lemas menundukkan kepalanya. Wajahnya yang manis tertutup oleh rambutnya. Entah apa yang sedang ia pikirkan. Dia gadis yang baru saja berumur 12 tahun. Memang apa yang pantas untuk ia pikirkan.
Seorang wanita tua menghampirinya, dengan jalan yang agak merunduk dengan tongkat di tangannya sebelah kanan. Lalu ia duduk di samping gadis itu. Ia bertanya pada gadis itu “Tegakkan kepalamu, nak!” perlahan gadis itu menegakkan kepalanya. Cahaya rembulan menyapa wajahnya dengan ramah, semakin terlihat manis dan cantik gadis itu. “Siapa namamu, nak? Dimana rumahmu? Bersama siapa kau disini?” suara wanita tua itu terdengar lirih, karena begitu gaduhnya agin malam itu. Dengan tenang gadis itu menjawab “Aku Tiara, rumahku disini, aku bersama jiwaku”. Wanita tua itu bingung mendengarnya.
Setelah beberapa menit keduanya hanya diam. Wanita tua itu kembali membuka percakapan “Apa yang sedang terjadi dengan dirimu gadis manis.” Gadis itu tak membuka mulutnya sedikitpun. Wanita tua itu terus menatap wajah Tiara berharap dia akan menjawab pertanyaannya. “Percayalah padaku, kau boleh potong jari ini jika aku melakukan hal buruk padamu.” Wanita tua itu kembali berbicara padanya. Gadis itu menatap wajah wanita tua itu. Matanya begitu bening secerah rembulan. Tapi air mata itu tiba-tiba keluar dari mata indahnya.
Perlahan gadis itu membuka mulutnya “Aku pergi dari tempat terbaringku, rumah sakit telah membuatku tak mampu melihat rembulan pada malam dan mentari pada pagi hari. Setiap pagi aku terbangun aku hanya melihat papa yang terlelap tidur di kursi panjang, dan mama yang sedang berdoa kepada Tuhan. Air mata mama yang kulihat di balik celah mataku karena ia mencemaskanku. Satu bulan aku hanya terbaring di atas ranjang. Pagi tadi aku mendengar lirih dokter sedang berbicara dengan mama. Dokter hanya berpesan pada mama untuk sabar dan pasrah tak ada lagi harapan untuk menyembuhkanku. Aku sendiri tidak mengerti dengan penyakitku, kata dokter ada kelainan dengan jantungku. Jika aku harus pergi hari ini aku tidak ingin melihat ait mata mamaku lagi Karena semakin aku tak sanggup untuk melepaskannya.” Diam sejenak kemudian dia melanjutkan “jika Tuhan memanggilku hari ini, aku ingin bilang pada mama aku sanyang mama aku sayang papa. Tiara pergi dulu, jika rindu tiara lihatlah bulan Tiara akan selalu menjaga papa dan mama, Tiara akan selalu merindukan mama dan papa.” Ia berdiri menatap rembulan, perlahat kelopak matanya menutup. Gadis itu bercerita seolah ia tak punya beba. Wanita itu duduk dibangku taman mengajak Tiara untuk berbaring di dekatnya. Tangannya yang masih halus mengelus lembut rambut Tiara. Perlahan nafas gadis mungil itu mengikuti lajunya angin dan tak terdengar lagi hembusan indah itu.
Malam berganti sunyi senyap bulan dan bintang seolah mengrti kesedihan itu. Tiara telah pergi. Wanita itu adalah ibu kandungnya, Tiara tidak mengetahui bahwa selama ini ia adalah anak titipan. Ibu kandung Tiara adalah seorang pelacur, ia tidak ingin Tiara mengtahui siapa dirinya sebenarnya. Malam itu ia ingin Tiara tahu dan ingin meminta maaf pada Tiara akan kesalahnnya selama ini. Tapi Tuhan berkehendak lain.
Wanita itu menggendong Tiara, berjalan menyusuri jalan setapak menuju sebuah rumah bergaya klasik modern.
Sesampainya disana, orang tua angkat Tiara langsung kaget, seorang wanita jatuh pinsan. Wanitu itu yang selama ini di panggil mama oleh Tiara. Tiara adalah gadis yang baik, ceria, tapi sejak penyakit itu meyerangnya, ia jadi pemurung. Wanita tadi memberikan Tiara pada Papanya. “Terima kasih” begitu ucap wanita itu.
Wanita itu langsung pergi. Ia terus berjalan dan berhenti tepat di tepi pantai. Malam itu juga wanita itu menyusul Tiara dengan hatinya yang sudah hancur berkeping-keping. Lompatlah dia dari tebing yang tinggi tepat di pinggir pantai. Dia berharap Tuhan memberinya kesempatan untuk bersama anaknya.

ada banyak ikaan :)))